You are here: SOSBUD

Ikatan Mahasiswa Akuntansi

"Negeri Pesakitan"

Print PDF

Oleh:Nefertiti B. Dewi


Tak tahu harus memulainya darimana. Karena segala kekecewaan dan rasa sakit ini begitu besar ingin menyeruak keluar. Kecewa melihat ketidakadilan, keserakahan, kerusakan moral yang melanda bangsa ini. Sangat miris melihat kondisi Indonesia saat ini. Di mana-mana terjadi konflik. Mulai dari kasus PSSI, tragedi berdarah Mesuji, dugaan suap nunun nurbaeti, dan masih banyak lagi. Negeri ini betul-betul sedang “sakit parah”. Sepertinya sangat sulit mencari obat yang mampu menyembuhkan segala “penyakit” yang kini merajalela itu.

Saat menonton tv yang memuat berita tentang seorang bayi yang sebenarnya belum sembuh dan masih membutuhkan perawatan dokter, tetapi disuruh pulang karena tak mampu membayar biaya rumah sakitnya. Sedih sekali melihatnya. Di mana rasa kemanusiaan itu. Saat semuanya dinilai dari uang, dari materi. Apakah tak ada rasa iba sama sekali untuk menolong sesama, menolong yang membutuhkan. Begitu banyak peristiwa-peristiwa yang membuat hati ini begitu sakit. Sakit melihat banyak anak-anak yang tak bisa bersekolah karena tak punya biaya, sakit melihat orang-orang miskin begitu diremehkan dan tak diperdulikan. Padahal mereka semua sama dengan kita.

Keserakahan mereka (baca:pejabat-pejabat pemerintah), rasa egois mereka, benar-benar telah melukai nurani kita yang cinta akan keadilan. Begitu muak melihat tingkah laku mereka. Bagaimana mungkin sang presiden bisa tidur nyenyak di rumahnya, sementara masih banyak rakyatnya yang tidur di kolong jembatan. Bagaimana bisa anggota DPR ke luar negeri untuk belajar katanya, tapi masih banyak anak-anak Indonesia yang tak bersekolah.

Memang, kekayaan dan jabatan telah membutakan jiwa dan diri para pemimpin bangsa ini. Mereka lebih mengikuti hawa nafsunya daripada hati nuraninya. Atau mungkin mereka sudah tidak memiliki hati, berganti menjadi rasa haus untuk terus menjadi kaya, menikmati uang-uang yang haram. Mereka hanya melihat uang dan materi sebagai satu-satunya sumber kebahagiaan.

Karena semuanya selalu dinilai dengan materi. Tak tahukah bahwa di situ ada hak-hak orang-orang miskin, tak tahukah bahwa segalanya akan dimintai pertanggungjawabannya di akhir nanti, tak takutkah mereka dengan Tuhan. Ya, sepertinya salah satu yang menyebabkan negeri ini “rusak” karena mereka sudah tidak memiliki akhlak dan moral yang baik. Ternyata pelajaran agama yang didapatkan di sekolah dulu menjadi sia-sia, tak ada artinya sama sekali. Mereka lebih takut dengan cctv dibanding dengan Tuhan yang tak pernah tidur.

Terpikir bahwa mereka dulunya sama dengan kita, seorang mahasiswa. Tapi jangan sampai nanti salah satu dari kita akan menjadi perusak bangsa seperti mereka. Semoga Tuhan selalu menunjukkan jalannya untuk kita semua, jalan kebenaran, jalan yang bisa membawa kebaikan untuk seluruh rakyat di negeri ini. Dan semoga kita nantinya menjadi orang-orang yang mampu membawa perubahan ke arah yang lebih baik untuk Indonesia tercinta. Semoga.

Teruslah berdoa dan bergerak kawan-kawan. Karena hanya ada dua pilihan.  Lawan atau mati tertindas. Semoga kita memilih untuk melawan. Melawan mereka yang telah mati hatinya, yang telah tuli telinganya, yang telah buta matanya, dari melihat, mendengar, dan merasakan penderitaan rakyat yang tertindas.

*suara hati seseorang yang pilu hatinya akibat orang-orang tak tau diri yang menyengsarakan rakyatnya sendiri

 

"Negara Dalam Arus Besar Kejahatan Konstitusional; Menyoal Fenomena Konspirasi Politik Kapital Dalam Proses Legislasi DPR RI"

Print PDF

Oleh: Ahmad Mursyid

Neoliberalisme semakin merasuki hampir di setiap sendi kehidupan di negara (baca: Indonesia) kita tercinta ini. Paham tersebut dengan mudahnya masuk ke dalam sistem ekonomi, sosial, budaya, politik, sampai pada hal yang paling fundamental dalam kehidupan yakni pendidikan. Masuknya paham kapitalisme dalam kemasan barunya “neoliberalisme” ditandai dengan adanya kebijakan-kebijakan konstitusional pemerintah yang tidak pro-rakyat akan tetapi semata-mata untuk kepentingan para pengusaha atau pemilik modal. Ambil contoh, Peraturan Pemerintah No. 66 Tahun 2010 tentang pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan di mana pihak ketiga dalam hal ini pihak swasta atau pihak asing diperbolehkan melakukan investasi di bidang pendidikan. jika pihak ketiga telah menginvestasikan sejumlah tertentu modalnya, maka secara otomatis kendali pendidikan baik itu operasional, manajemen, kurikulum, dan lain-lain sepenuhnya berada ditangan sang pemilik modal. Masih banyak lagi kebijakan-kebijakan konstitusional lain yang dirumuskan pemerintah yang terindikasi merupakan hasil kerjasama atau perselingkuhan antara pemerintah dan pengusaha/pemodal (kleptokrasi).

‘Demokrasi’ yang menjadi ikon setelah tumbangnya rezim orde baru sekaligus sebagai penanda bangkitnya orde reformasi memiliki catatan tersendiri. Orde reformasi dengan ciri demokrasi yang telah berjalan kurang lebih 13 tahun ternyata tidak membawa perubahan secara signifikan terhadap negeri ini. Pada satu sisi, demokrasi memberikan kebebasan menyatakan pendapat, akan tetapi di sisi lain justru demokrasi hanya menambah dan memperumit permasalahan-permasalahan di negeri ini. Demokrasi politik misalnya, yang ditandai dengan menjamurnya partai-partai politik (parpol) di Indonesia, baik parpol yang menyatakan dirinya berideologi agama tertentu maupun partai-partai lain yang mempunyai corak tertentu. Apa yang salah dengan banyaknya partai politik? Bukankah hal ini adalah bukti kesuksesan negara demokrasi?

Sebenarnya, parpol-lah yang memegang kendali perpolitikan di Indonesia, anggota-anggota parpol kemudian mengisi kursi-kursi jabatan di struktur pemerintahan karena sistem di negeri ini memang menghendaki hal tersebut. Pertarungan antara partai politik di pesta demokrasi (pemilu dan pilkada) terjadi setiap lima tahun. Parpol pemenang yang dominan akan mengisi kursi-kursi jabatan di pemerintahan dan orang-orang yang dipilih serta dianggap pro terhadap parpol pemenang. Oleh karena itu, sangat jelas arah kebijakan yang nantinya akan dilahirkan oleh pemerintah yang berkuasa, sehingga bisa disimpulkan bahwa sebenarnya negara ini dikendalikan oleh partai politik.

Jika kita melihat proses demokrasi politik yang terjadi, “harga” demokrasi sangat mahal terbukti dengan persaingan-persaingan antar parpol yang sangat ketat, mulai dari biaya kampanye dan biaya-biaya lain yang bisa mempermulus naiknya sang calon presiden atau calon bupati misalnya. Sehingga, orientasi pasca terbentuknya pemerintahan yang baru bukan lagi pada “bagaimana mensejahterahkan rakyat” akan tetapi “bagaimana mengembalikan semua biaya-biaya yang telah dikeluarkan” sebelum terbentuknya pemerintahan yang baru. Maka, lahirlah istilah korupsi, kolusi, nepotisme, dan sebagainya di kalangan pemeritahan dengan satu tujuan yang sama yakni mengembalikan modal dengan cara apapun. Dari sinilah gerbang masuknya neolib ke sistem politik.

Makanya tidak heran ketika kebijakan-kebijakan yang bersifat konstitusional sangat jarang yang pro terhadap kesejahteraan rakyat. Fakta hari ini mendukung hal tersebut, undang-undang atau peraturan-peraturan yang dibuat memang sengaja membuka ruang-ruang privatisasi ataupun swastanisasi, misalnya UU Penanaman Modal Asing (PMA) yang masih dipertahankan sampai hari ini padahal jelas sangat merugikan rakyat banyak, Swastanisasi pendidikan dan  privatisasi BUMN serta perusahaan-perusahaan lain. Dibalik semua aturan-aturan tersebut terdapat konspirasi antara kapitalis dan politikus. Kalau zaman orde baru, corak pemerintahan berdasarkan dwifungsi ABRI, maka rezim reformasi justru memperlihatkan corak dwifungsi pengusaha, sehingga antara kebijakan politik dan kebijakan ekonomi tidak dapat lagi dibedakan. Maka yang kita lihat hari ini adalah politikus sekaligus sebagai pemodal.

Belum lagi, ketika kita melihat Program Legislasi Nasional (Prolegnas) yang dilakukan oleh DPR kita yang terhormat dalam rangka perumusan kebijakan sungguh menelan biaya atau anggaran yang tidak sedikit dan tentunya anggaran tersebut diambil dari uang rakyat. Sangat ironis memang menyaksikan kejadian-kejadian tersebut. Fakta hari ini menunjukkan bahwa politik digunakan sebagai alat atau tools untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu yang tidak berpihak pada kesejahteraan dan keadilan, ditambah lagi ‘hukum’ hari ini justru menghamba pada politik, sehingga akan memperburuk kondisi negeri ini. Lantas, apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi permasalahan-permasalahan yang ada atau minimal meminimalisir hal-hal tersebut?

Mari kita bercermin terhadap organisasi-organisasi perlawanan pra-kemerdekaan seperti Serekat Islam, Serekat Dagang Islam, Indische Partij, dan lain-lain, menyadari dirinya bahwa mereka adalah organisasi “perjuangan ideologis”, lain halnya dengan parpol di era reformasi ini bukan organisasi perjuangan ideologis melainkan semata-mata untuk mengejar keuntungan belaka. Padahal, parpol yang membentuk corak demokrasi seharusnya adalah organisasi perjuangan ideologis dan murni untuk mensejahterahkan rakyat banyak.

Tidak bisa dipungkiri bahwa sistem perpolitikan juga memberikan ‘kesempatan’ dan peluang kepada parpol untuk melakukan kejahatan-kejahatan, ditandai dengan status ganda yang dimiliki oleh pemimpin misalnya, sebagai anggota dewan atau presiden sekaligus sebagai anggota partai atau pemimpin partai. Jadi wajar saja kalau pemimpin hari ini justru sibuk memikirkan bagaimana menjaga citra dan keberlangsungan partainya dibanding memikirkan kesejahteraan rakyat. Oleh karena itu, solusi konkrit menurut penulis adalah di buat garis demarkasi yang jelas antara kekuasaan (legislatif, eksekutif, yudikatif) dan partai politik dalam hal ini tidak boleh ada status ganda sebagai anggota parpol sekaligus sebagai pemimpin misalnya. Ketika anggota parpol terpilih sebagai penguasa (presiden, bupati, anggota DPR, atau apapun) maka secara otomatis keanggotaan di partai politik harus ditanggalkan. Dan aturan tersebut harus dituangkan dalam bentuk aturan dalam hal ini undang-undang.......*

 

RAMADHAN & KONSUMERISME

Print PDF

RAMADHAN & KONSUMERISME


Ø Pendekatan etika dan ekonomi

Ø Konsumerisme : kecenderungan budaya

Konsumerisme adalah paham atau ideologi yang menjadikan seseorang atau kelompok melakukan atau menjalankan proses konsumsi atau pemakaian barang-barang hasil produksi secara berlebihan atau tidak sepantasnya secara sadar dan berkelanjutan.

Hal tersebut menjadikan manusia menjadi pecandu dari suatu produk, sehingga ketergantungan tersebut tidak dapat atau susah untuk dihilangkan. “Sifat konsumtif” yang ditimbulkan akan menjadikan penyakit jiwa yang tanpa sadar menjangkit manusia dalam kehidupannya.

Budaya konsumerisme meningkat tajam disetiap bulan ramadhan dan menjelang lebaran. mulai dari berbuka, sahur puasa dengan makan enak, makan enak di hari lebaran sampai kepada baju baru di hari lebaran. dari sisi perkembangan dan pertumbuhan ekonomi masyarakat Indonesia, bulan ramadan adalah bulan rejeki, mulai dari non muslim juga panen rejeki sampai pada manfaat dan gairah, daya beli masyarakat yang tinggi. daya beli masyarakat yang tinggi adalah salah satu faktor pendukung pertumbuhan ekonomi. Konsumerisme tidak selamanya mengarah kepada negatif.

Makasar, 25 Agustus 2011

 

Diferensiasi of Ramadhan

Print PDF

Diferensiasi of Ramadhan


subhanallah, allahuakbar,, salam sjahtra untk para nabi n sahabat'y, (Radiallahuanhu), Kesucian n kefitrahan ramadhan kembali naik di permukaan dunia, zikir, puji2n untuk illahi sllu trpanjat d bulan penuh berkah ini,, realita dan fenomena keagamaan pun meruak di seluruh antero jagat,, lg2 subhanallah,, Media komunikasi, tayang, elektronik, n yang lain2'y berlomba2 untuk membubuhi rona dan fenomena ramadhan, alhamdulillah,, Berlomba2 pula setiap umat manusia mnjadi yg pling baik n pling mulia (tp msh ttp dbwah kemuliaan nabi muhammad),, Keberkahan bagi kaum pedagang kecil, yg menambah rizky mreka dgn rubrik2 pesona pasar ramadhan. Yg materialis mnjadi smakin kaya dgn menaikan fenomena ramadhan untuk perputaran bisnis'y, Wow,,, amazing smua fen0mena'y,, wlupun ada segelintir orng yg kritis n dlm artian pintar bgt menganalisa pandangan n pintar bgt mengkritik n mw'y sllu mengkritik, Mengatakan smua hal itu hanya jamuan musiman n terkesan pragmatis. Paradigma z biarin aja yg pnting msh ada yg di ingat manusia untuk lbh menghargai keberadaan illahi, skli lg smua'y bkn hal yg mendadak untuk merubah konsepsi ssorng akan kebaikan.

(prakata awal ya), insya ALLAH berkah y, ttp y z m0hon dlm jalur pemikiran positivistik.

 

OK, MASUK KE PEMBAHASAN.


Camuflase akn sllu terbentuk, diferenisasi zaman nabi2 dan skrng pst sgt jauh dr kesamaan,Bsa di liat dr sudut pandang.

Pertama : teknologi, pemikiran, epistemologi dan ontologi'y, Teknologi para nabi sllu di utamakan untk lbh dekat pd illahi, pemikiranpun tdk boleh melenceng dr agama, dan berjuang untuk menaikan isue dan pamor islam di antero jagat, epistemologi dan ontologi pun sllu berpedoman pd ilmu dan keberkahan illahi dan para nabi. Fenomena saat ini : teknologi tercipta bkn untuk mendekat diri pd illahi, tp berlomba untuk menjadi smakin materialis, bahkan yg memiliki jiwa sosialis pun sy rancu smua'y bkn atas landasan pragmatism, pemikiran : pdhl kita hanya bsa menikmati tauhid, ga perlu sibuk2 jd konseptor tauhid sprti nabi terdahulu, tp manusia skrng, smua'y lg2 hrus kritis, bahkan tauhidpun di kritisi bahkan banyak yg mensalah tafsirkan al quran, (nahudzubillah mindzalik). Epistemologi n ontologi : realita saat ini ga jls, bwt mereka hrz di sejalankan antara teorema orang terdahulu sperti socrates, plato n aristoteles dgn pemikiran para nabi2, ya ALLAH, nabi2 kami islam sdngkn mereka,, Tp ttp penghargaan penuh dr sy atas karya2 filosofis tsb.


Kedua : fenomena alam, lingkup'y kondisi camuflase bumi ya, alam keberkahan surgawi, dirasain di zaman nabi2 dan sahabatnya, ga terfikir di benak mereka untk merusak alam,, Kondisi saat ini : nuklir, bom, peluru dan bahan peledak lain'y merajalela di alam terindah ini, blm lg dengan tingkat kerendahan kesadaran manusia atas kelestarian alam, share dikit ya, pengalaman astronot wanita italia yg mendarat di bumi, dia berkata bumi hitam, pekat, banyak lubang dimana2, tp hanya 1 yg terlihat indah, ternyata itu posisi kota mekah n madinah, dan yg lebih subhanallah lg suara adzan di mekah trdengar smpai bulan,, Wow,, Untung msh di sediakan mekah n madinah, klo tdk pst kebobrokan bumi pst sdh terjadi,

Fenomena ketiga : landasan kesantunan,Kesopan santunan di zaman nabi2, subhanallah, terjunjung sgt tinggi, bahkan diatas sgala'y, orang tua dan imam, pemuka agama dan sebagai'y di tempatkan pd posisi yg hrz di sopan santuni pling atas, anak kecil disayangi dan di bimbing, tanpa doktrinan so'2 kritis yg menyesatkan. Realita saat ini, orng tua tdk di hargai, imam di hina dan di caci maki mungkn di bilang bnyk omonglah atas ceramah2'y, anak2 dijual tidk di hargai dan tidak di sayang, pemerkosaan, pembunuhan, penistaan dan pendzoliman terjadi dimana2, nahudzubillah mindzalik.

Segelintir fen0mena dgn camuflase'y, di beberapa aspek general yg z naikkan diatas, itu hanya secarik fen0mena, bnyk lg sebenar'y diferenisasi tsb..

 

Oh ya,,

Bnyk orang yg mengkritisi bhwa ramadhan di jadikan ajang mensejahterakan umat tertentu, dgn kata lain yg materialis menjadi smakin tajir, pdhl berdagang dr kaum kafir, Ya ALLAH, nabi muhammad pun bertransaksi dgn kaum kafir saat dia berdagang, dan beberapa pengusaha muslim dr negri serambi islam, ( al wallid pemilik 325 saham dunia di semua aspek. Sultanul hasanul boulqiyah raja minyak yg bertransaksi dgn orng2 nasrani), Subhanallah, mreka gunakan untk kesejahteraan muslim, bgtu jg nabi muhammad. Selain itu bnyk kata'y ustadz2 yg jualan ceramah, bnyk home production, menjual balutan busana ala2 umat suci, dgn produk2 islami'y, Well udah deh guys berhenti mengkritik, justru indah louh ramadhan di penuhi dgn fen0mena n karnaval islami, drpd ga ada sm skli, Ustadz2 pd jualan akidah dan ceramah, biarin aj yg dosa dia, yg pnting yg mendengarkan merauk kebenaran akan ceramah2'y,, Mslh ketidaksucian orng2 yg berkedok mmng mslh besar umat muslim, tp cb lah guys, berkonsepsi pd bbrapa fen0mena yg sy paparkan di atas, Dunia n bumi mengalami diferenisasi,, perlahan2 dan ttp di jalur TAUHID ILLAHI dlm memberi teguran pd mereka, usaha yg real yg dpt dilakukan. Kritikan hanya akan menimbulkan peperangan dimana2, baik perang trhadap pemikiran, personal, kelompok maupun individu,

SUBHANALLAH, ALLAHUAKBAR, ALHAMDULILLAH,

Lakukanlah yg menurut tmn2 baik dlm fenomena diferenisasi of ramadhan ini, bkn dgn cara menimbulkan peperangan dan kerusakan, Ya ALLAH, allahummasallim'alaih untuk para nabi2, Radiallahuanhu untk para sahabat2 nabi,Sem0ga berkah ramadhan berada dlm balutan kita semua, amin, amin, ya rabbal'alamin,

:-), ^_^


Created by : muth mainnah, (ekonomi akuntansi UNHAS)

 
  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  Next 
  •  End 
  • »
Page 1 of 2

Akuntansi | Manajemen | Serba Serbi | Ilmu Ekonomi | Almamater | Hukum | Lingkungan | Pendidikan | SOSBUD | Puisi | Resensi | Daftar Dosen | Data Akademik | Beasiswa | Loker | Undangan