Bedah Buku: Habibie dan Ainun
Oleh :kanda Hermawan dan Tiwi Ak09

Buku setebal 323 halaman itu menceritakan mulai dari awal pertemuan Habibie dan Ainun, sampai akhinya Ainun (72) menghembuskan nafas terakhirnya karena komplikasi penyakit pada 22 Mei 2010. Habibie menghitung masa hidup bersama Ainun, sejak menikah pada 12 Mei1962,selama48tahun10hari.
"Bagi Prof. Habibie,, hikmah menulis buku ini, telah menjadi terapi untuk
mengobati kerinduan, rasa tiba-tiba kehilangan oleh seorang yang selama 48 tahun 10 hari berada dalam kehidupan saya," kata Presiden ke-3 RI itu dalam pengantar bukunya.
Habibie masih ingat betul kapan ia pertama kali jatuh cinta kepada Ainun. Saat itu, 7 Maret 1962, Habibie sedang silaturahim ke rumah keluarga Besari, ayah Ainun, yang terletak di jalan Rangga Malela, Bandung, pada malam takbir. Pandangan mata malam itulah yang akhirnya mengantarkan keduanya pada kisah-kisah romantisme hari berikutnya, sampai akhirnyamenikah3bulankemudian.
"Tanpa saya sadari pandangan mata selama dengan Ainun telah menimbulkan perasaan rinduuntukberpandanganlagi,"tulisHabibie(halaman 7)
Namun demikian, buku yang diterbitkan The Habibie Center ini, tidak melulu berbicara soal romantisme percintaan. Habibie menulis, istrinya itu juga selalu mendampingi dan mendukung pekerjaannya sebegai menteri. Bahkan saat ia menghadapi masa-masa krisis pada reformasi Mei 1998 dan menjabat Presiden ke-3 RI selama 17 bulan.
Habibie menulis, sebagai istri Anggota Kabinet Pembangunan, Ainun juga aktif dalam organisasi Dharma Wanita. Ainun pernah memimpin Balai Bina Kerta Raharja, lembaga sosial yang bergerak menjadikan para tuna wisma menjadi transmigran.
"Ainun selalu mandiri dan tidak pernah mengeluh dan menggangu pekerjaan saya. Seberat apapun pekerjaannya, ia selalu memberi senyumannya yang menenangkan saya dan selalu kurindukan sepanjang masa," kenang Habibie (halaman 120).
Dalam bagian akhir bukunya, Habibie juga menulis detik-detik perpisahannya dengan Ainun yang terbaring sakit di rumah sakit Ludwig Maximilian University di Muenchen. Pada 22 Mei 2010 pukul 17.30 waktu Muenchen, Ainun akhirnya pindah ke dimensi lain. Habibie pun membisikkan di telinga belahan jiwanya yang telah pergi itu.
"48 Tahun 10 hari, Allah Engkau telah menitipi cinta abadi yang menjadikan kami manunggal. Manunggal yang dipatri oleh cinta yang murni, suci, sempurna dan abadi," tulis Habibie(hal296).
Cerita buku Habibie & Ainun tidak selesai sampai di situ. Setelah Ainun pergi, Habibie terus mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang menghantui pikiran dan perasaannya, seperti: "Di mana Ainun berada saat ini?Bagaimana Habibie bisa terhubung dengan Ainun?". Semua dijawab Habibie dengan memanfaatkan pengetahuan, pengalaman dan keyakinannya.
Buku kisah cinta Habibie dan Ainun ini bercerita berbagai kisah cinta yang menarik antara Pak Habibie dan Ibu Ainun dalam rentang waktu kebersamaannya dengan sang isteri selama 48 tahun 10 hari hingga maut memisahkan. Dari perkenalannya hingga kesehariannya mengarungi bahtera rumah tangga, dari ceritanya bahwa Ainunlah yang selalu mencukur rambut Habibie hingga dan doa cinta Habibie dan Ainun. “Saya yakin revolusi kehidupan itu telah diatur oleh Allah. Ainun selalu ada di hati saya,” ucap Habibie disela peluncuran buku Habibie dan Aiunun ini di Jakarta 30 November 2010 kemarin.
Pelataran himpunan
Makasar,13 Mei 2011
| < Prev | Next > |
|---|
Bedah buku: Habibe dan Ainun
