Judul buku : Soekarno, Perempuan dan Pergerakan Nasional
(Soekarno on the Role of Women in the Nationalist Movement)
Pengarang : Colin Brown
Bahasa : Indonesia
Penerbit : Ombak
Tahun Terbit : 2004
Kolasi : xii,76 hlm., , 19 cm.
Buku ini menceritakan tentang pandangan Soekarno terhadap kaum perempuan dan perannya dalam pergerakan nasional dan dunia politik. Pandangan umum Soekarno yang dilihat dari hasil tulisan para penulis ataupun kalangan akademik menggambarkan bahwa Soekarno merasa perempuan sebagai objek seksual untuk dinikmati ketimbang berpolitik. Hal ini merupakan suatu kekeliruan karena soekarno tetap menyediakan waktunya untuk berdiskusi mengenai peran wanita di Indonesia (walaupun bukan merupakan fokus utamanya).
Pada tahun 1946, Soekarno sempat memberikan kuliah informal kepada kader politik Indonesia mengenai hal ini. Kuliah-kuliah ini kemudian dikumpulkan dan diterbitkan dalam buku yang berjudul Sarinah.
Soekarno mengkaji dua masalah perempuan, yaitu bagaimana dan apa sebab perempuan menjadi kelompok tertindas di dalam masyarakat Indonesia dan bagaimana cara agar perempuan dapat melepaskan diri dari keadaan tersebut.
Organisasi wanita pertama, Poetri Mardika, yang berdiri pada tahun 1912 hanya ditujukan untuk masalah-masalah yang berhubungan dengan kesejahteraan sosial dan keagamaan.Organisasi tersebut lebih bersifat kedaerahan dan didiminasi oleh perempuan aristokrat. Akan tetapi, pada era 1920-an seiring berkembangnya partai politik seperti Partai Komunis Indonesi (PKI) dan Partai Nasional Indonesia (PNI), tipe baru organisasi perempuan muncul. Partai tersebut membuat cabang bagi kader perempuan.
Kongres Nasional PNI di Surabaya pada tahun 1928 (saat itu Soekarno menjabat sebagai ketua) mengambil berbagai tema politik. Salah satunya adalah tentang pendidikan status perempuan, yakni dengan penghapusan poligami, kawin paksa, dan kawin di bawah umur.
Tema Perempuan menarikperhatian Soekarno, Soekarno mengidentifikaskan dua tipe organisasi perempuan pada masa itu. Organisasi perempuan yang pertama dan terbesar adalah gerakan 'keperempuanan'. Tipe organisasi yang kedua bersifat lebih politis. Mereka menuntut emansipasi wanita dan pencapaian hak setara dengan kaum laki-laki. Soekarno mengakui pemikiran mereka dalam emansipasi. Namun, Menurut Soekarno, mereka seharusnya menetapkan tujuan yang lebih tinggi, yaitu pencapaian kemerdekaan nasional. Bagi Soekarno, hanya dengan kemerdekaan Indonesia, maka perempuan dapat mencapai kesetaraan. Kaum perempuan harus bersiap diri dalam rangka pergerakan nasional bersama kaum laki-laki Indonesia.
Soekarno melihat tiga tahap pengembangan dalam pergerakan perempuan. Pertama tahap 'feminin' dimana anggotanya lebih memerhatikan masalah wanita. Kedua, menunjukkan tuntutan terhadap emansipasi dan hak yang sama dalam pendidikan dan pekerjaan. Ketiga, lelaki dan perempuan bekerja sama dalam pergerakan menuju kemerdekaan.
Soekarno memandang perempuan bukan sebagai bagian tertindas yang terpisah dari kaum laki-laki. Soekarno menganggap perlu melibatkan perempuan dalam pergerakan nasional (yang merupakan obsesi baginya). Dalam pandangannya, perempuan Indonesia harus melihat diri mereka sebagai bagian yang menyatu dengan rakyat. Perempuan Indonesia perlu mengerti bahwa musuh utama yang menghalangi mereka adalah kapitalis asing dan sistem kolonial yang memperbudak Indonesia. Kemajuan bagi perempuan dapat diraih hanya dengan memperoleh kemerdekaannya. Berjuang untuk isu-isu perempuan dapat membuat perpecahan dalam pergerakan nasional. Hal tersebut dapat mengalihkan sebagian cita-cita mengusir kolonial dan pencapaian kemerdekaan. setelah kemenangan telah direbut, kemajuan dapat diwujudkan sehingga dapat terjadi restrukturisasi masyarakat. Hanya dengan itulah posisi perempuan dapat diperbaharui.
Tirta Arum Bhakti T.