Directed : P.J. Hogan
Produced :Jerry Bruckheimer
Written by Novels :Sophie Kinsella Screenplay : Tim Firth, Tracey Jackson
Starring :Isla Fisher, Hugh Dancy, Krysten Ritter
Music :James Newton Howard
Cinematography :Jo Willems
Editing :William Goldenberg
Distributed :Touchstone Pictures
Kehidupan Ironis si Gila Belanja
The Confession of a Shopaholic adalah sebuah film drama komedi yang benar-benar menyakitkan. Kisah seorang perempuan mapan yang bekerja di sebuah majalah keuangan, tapi punya kebiasaan gila belanja.
Adalah RebeccaBloomwood yang mempunyai keinginan untuk bekerja di sebuah majalah mode yang terkenal sayangnya ia tak memenuhi syarat untuk menjadi redaktur majalah ini. Akhirnya Rebecca harus puas dengan pekerjaannya sebagai pengisi rubrik di sebuah majalah ekonomi. Namun, disinilah kisah asmara dan masalah akibat shopaholicnya dimulai.
Keberuntungan sepertinya masih berpihak pada Rebecca. Hanya dalam waktu singkat, rubrik yang diisi Rebecca menjadi populer. Kesuksesan rubrik ini mau tak mau mengubah Rebecca menjadi seorang pesohor. Sayangnya hobi belanjanya yang makin menggila sudah mulai tak bisa dikendalikan. Kini Rebecca hanya punya dua pilihan: menghentikan hobi gilanya atau kehilangan semua yang ia miliki.
Seiring dengan berjalannya cerita, berbagai kebohongan membuat masalah menjadi semakin pelik dan semakin runyam,rusaknya hubungan persahabatannya dengan Suze dan hubungan asmaranya dengan atasannya Luke, dan dalam kondisi terdesak akhirnya Rebecca memutuskan sesuatu dan mengambil tindakan untuk menyelesaikan masalah yang selama ini ditumpuk dengan dewasa, dan keputusan akhirnya adalah dengan menghilangkan kebiasaan belanjanya yang sebelumnya tidak pernah berhasil dengan menjual seluruh barang-barang bermereknya termasuk selendang hijau yang menjadi barang berharga untuk dirinya.
Masalah pertama dari film ini adalah jadwal tayangnya. Film yang berkisah tentang pecandu belanja ini muncul di saat dunia dilanda krisis ekonomi dan membuat film ini jadi sedikit terasa 'menyakitkan' buat para penonton yang sedang sibuk menghemat pengeluaran. Akibatnya, film yang sebenarnya berisi lelucon ini jadi terasa sebagai sebuah tamparan di wajah para penonton.
Untungnya, Isla Fisher sang tokoh sentral adalah seorang komedian yang berpotensi, dalam artian ia bisa bertingkah konyol dan menggali kelucuan secara fisik tanpa terlihat dibuat-buat. Ini yang akhirnya menjadi kekuatan film ini untuk mencegah penonton pergi meninggalkan bioskop sebelum film berakhir. Jarang ada komedian wanita yang mampu terlihat konyol seperti ini tanpa dibuat-buat. Bahkan Anna Faris yang tampil bagus dalam film SCARY MOVIE pun kadang masih terlihat memaksakan diri terlihat 'bodoh' di depan kamera.
Seandainya film ini muncul sebelum krisis ekonomi, bisa jadi penonton akan bisa tertawa lebih lepas melihat Isla Fisher. Tapi toh fakta menyebutkan bahwa film ini berhasil masuk jajaran 10 besar film box office dan meraup hingga US$38 juta lebih.
Film ini bisa dijadikan pembelajaran bagaimana satu kebohongan yang Rebecca lakukan untuk menutupi masalahnya menimbulkan kebohongan-kebohongan lain dimana dia sendiri kerepotan untuk mencari alasan lain untuk penagih utang Derek Smeath yang selalu mengejarnya dan membuat hidupnya tidak tenang. Selain itu kita dapat mengetahui perbedaan antara kebutuhan dan keinginana yang secara tersirat terdapat dalam film ini, dimana Rebecca yang seorang shopaholic membeli suatu barang hanya dengan pertimbangan keinginan saja walaupun dia tidak membutuhkannya. Ada pula kata-kata dari Luke bahwa harga dan nilai itu berbeda, bahwa kita tidak akan bisa menilai suatu barang hanya dengan harganya saja tetapi nilai atau makna dari barang itu.
Film ini jelas dapat anda nikmati karena sangat menyegarkan, baik dari sisi komedi nya, maupun dari sisi emosionalnya yang romantis dan menyegarkan. Membuat kita banyak belajar dari tokoh-tokoh dalam film ini dan pastinya akan menambah pengatahuan kita tentang seorang shopaholic.