Sebelum lebih lanjut membahas tentang mahasiswa idealis dan pragmatis, lebih bijak kiranya untuk memahami terlebih dahulu defenisi dari pragmatis dan idealis itu sendiri guna menyamakan pemahaman.
Idealisme merupakan kompilasi dari dua kata. Kata Ideal dan kata isme. Ideal artinya suatu keadaan yang sempurna dan isme merupakan sebuah paham atau prinsip hidup. Idealisme, yaitu suatu pegangan hidup yang kokoh dijaga agar tidak terpengaruh dan selalu berusaha diwujudkan untuk mendapatkan kepuasan diri sendiri ataupun kelompok, dapat juga diartikan sebagai suatu pemikiran bahwa seharusnya hidup terkondisi pada keadaan yang sebagaimana dibayangkan, agar semua yang dilakukan terasa benar dan sempurna bagi dirinya atau bagi kelompoknya. Idealisme seringkali dipersaudarakan dengan kritis berlebih, anarkisme, radikalisme, ekstrimisme dan artian-artian sebangsanya. Tidak heran idealisme menjadi sering disalahartikan dalam banyak ranahnya. Segala hal yang berontak kemudian digelari sikap fundamental pertahanan idealisme. Kekerasan-kekerasan dan spesies-spesiesnya juga demi berbagai macam pembelaan ikut numpang selamat pada kata Idealisme. Padahal jika kata idealisme ini kita tarik maka akan terlihatlah dengan jelas lekak-lekuk akar dan pembuluhnya. Dan tak satu pun disana tersemat buku-buku kekerasan karena mustahil sekali sesuatu yang diupayakan bisa sempurna, apabila gaya tatanya berkiblat pada gaya anarkis. Seperti menyamakan gaya perbaikan dengan gaya pengerusakan. Kritis dan idealis, yang merupakan potensi penting bagi mahasiswa, dianggap hina dan berujung pada diskriminasi sosial.
Pendidikan yang dilahirkan pada awalnya sebagai media pembebasan manusia dari segala bentuk pembodohan menjadi sebuah ironi bagi perdebatan idealisme dan pragamatisme. Kaum pragmatis dalam perjalanan sejarahnya akan selalu bertentangan dengan para idealis yang mungkin tidak sesejahtera kaum pragmatis. Para idealis menginginkan sebuah perubahan karena berpemikiran jernih, tulus, dan berpangkal pada posisi, potensi dan peran mereka sebagai mahasiswa. Mereka berkeinginan untuk memajukan kelompok atau institusi sebagai salah satu upaya untuk menuju masa depan yang lebih baik agar dapat dinikmati oleh semua pihak dan generasi yang akan datang.
Menurut, Muhammad Ilham (mahasiswa S2 Manajemen UH) mahasiswa idealis adalah mahasiswa yang memiliki kesadaran kolektif dan punya kepedulian untuk orang lain. Dapat dibahasakan bahwa, mahasiswa idealis adalah mereka yang senantiasa berjuang mendakwahkan ajaran nabi-nabi. Sedangkan mahasiswa pragmatis adalah mereka yang lebih mementingkan dirinya sendiri, itu karena mereka belum punya kesadaran dan pengetahuan tentang pentingnya berkhidmat.
Setelah mengetahui makna dari idealis dan pragmatis, lebih terkhusus dalam diri seorang mahasiswa, mari kita melihat realitas yang terjadi saat ini!
Dalam dunia kampus, tidak dapat dipungkiri bahwa tugas mahasiswa memang adalah belajar. Hanya saja, pernyataan tersebut kemudian terdistorsi dengan pahaman bahwa belajar identik dengan mahasiswa yang memperoleh IPK 4,0 dan lulus dengan kurun waktu empat tahun. Belajar kemudian diberikan sekat dan prioritas. Mahasiswa calon akuntan misalnya, menganggap bahwa mata kuliah akuntansi adalah lebih penting daripada belajar tentang kepemimpinan. Menanggapi hal ini, Annies Baswedan pernah berkomentar bahwa IPK tinggi hanya akan mengantar seorang sarjana sampai pada panggilan wawancara, sedangkan yang menentukan selanjutnya adalah jiwa-jiwa leadership-nya. Pamaknaan kata “belajar” yang seolah-olah menganaktirikan ilmu-ilmu yang lain kemudian menjadi salah satu penyebab pudarnya idealisme mahasiswa. Bahkan, yang lebih ironis ketika ukuran keberhasilan semata diukur dari kemapanan seseorang mencukupi kebutuhan perutnya, dari tingginya pangkat, dari terpandangnya status sosial. Bukan lagi soal siapa yang lebih bisa berguna bagi orang lain. Bukankah yang paling baik di antara manusia di sisi Tuhannya adalah yang memberikan manfaat bagi orang lain?
Dalam realitasnya, kebanyakan dari mahasiswa lebih memilih untuk menjadi mahasiswa yang acuh atak acuh dengan lingkungannnya. Mahasiswa lebih senang mejeng di mall ketimbang turun tangan dalam gerakan-gerakan sosial. Namun, adalah juga hal yang keliru ketika mahasiswa-mahasiwa yang bergerumul dengan dunia kampus atau lebih kita kenal dengan istilah “aktivis kampus” diidentikkan dengan mahasiswa yang selalu berpikiran idealis. Faktanya, ada-ada saja ditemukan aktivis yang bergelut dengan organisasi dan lembaganya bukan untuk memenuhi tanggung jawab sosialnya, tapi untuk memenuhi kebutuhan pribadinya yang sama sekali tidak memberi keuntungan dan manfaat bagi orang lain.
Lalu timbul pertanyaan, apakah mahasiswa yang memiliki pandangan pragmatis patut untuk disalahkan sepenuhnya? Jawabannya tentu tidak. Apa yang dilakukan oleh mahasiswa glamour dan hedonis sebenarnya merupakan tindakan yang benar menurut kaca mata mereka. Jadi, yang menjadi titik utama adalah persoalan cara memandang. Maka salah satu solusinya adalah, mahasiswa yang telah sampai pada tataran idealis, bertanggung jawab secara moril untuk menyampaikan nilai-nilai kebaikan pada mereka yang masih pada tataran pragmatis. Langkah kongkrit tentu menjadi sasaran solusi atas permasalahan ini. Misalnya saja, mahasiswa A berteman akrab dengan mahasiswa B, maka tanggung jawab sosial mahasiswa A yang lebih paham pada nilai-nilai kebaikan untuk mentransferkan pengetahuannya kepada si B dalam keseharian mereka di kampus. Jika perlu, pada ranah formal dibuatkan semacam kajian khusus yang secara intensif mengkaji tentang nilai-nilai kebaikan dalam hidup. Solusi lain yang mungkin dapat diterapkan adalah, mendorong mereka untuk lebih banyak membaca buku. Tidak dapat dipungkiri, buku adalah jendela dunia. Mereka yang mungkin tidak bisa menerima secara lapang dan terbuka ketika diceramahi dan diajak berdiskusi dapat dipahamkan dengan meminjamkan atau menyarankan referensi bacaan-bacaan yang memuat tentang nilai-nilai kebenaran dan kebaikan.
Kecendrungan mahasiswa untuk menjadi mahasiswa pragmatis sebenarnya didorong oleh faktor implisit. Mahalnya biaya kuliah misalnya. Kecendrungan untuk sarjana dengan cepat karena terdesak permintaan orang tua, apalagi bagi mereka yang kurang mampu atau sebut saja mereka yang harus bersusah-susah membayar SPP per semesternya. Tentu keinginan untuk menjadi “sang pahlawan” di tengah-tengah masyarakat kita yang dirundung berbagai masalah menjadi pilihan sulit bagi mereka. Mengingat mahasiswa seperti ini didesak untuk segera lulus dan dapat kerja.
Ya, karenanya pemerintah pun cukup berperan penting dalam penentuan pembentukan karakter mahasiswa idealis dan pragmatis. Biaya pendidikan lagi-lagi menjadi sorotan. Dimana-mana ketika berbicara tentang masalah dunia pendidikan, akan kembali lagi ke pemerintah yang harus menetapi janji kemerdekaan dengan mencerdaskan kehidupan bangsa. Pemerintah harus mengupayakan anggaran pendidikan yang lebih adil dan merata untuk mereka anak-anak bangsa yang butuh mengeyam pendidikan, termasuk pelajar pendidikan tinggi.
| < Prev | Next > |
|---|
"Mahasiswa Sebagai Sosok yang Idealis dan Pragmatis"



