Secara rata-rata, orang Indonesia kemungkinan masuk dalam kategori malas
atau sangat malas belajar. Memang tidak semua orang Indonesia demikian,
tetapi jika kita bandingkan jumlah yang "rajin" dan yang "sangat malas"
kemudian diambil rata-ratanya kemungkinan besar itulah hasil yang kita
dapatkan.
Semua orang tau bahwa untuk maju, hal pertama yang harus kita lakukan
adalah belajar. Kesalahan pertama dari sistem pendidikan kita adalah
membuat image bahwa "belajar" itu hanya di sekolah atau di tempat kuliah saja.
Kesalahan kedua adalah membuat image bahwa setelah kuliah selesai/tamat,
"belajar sudah selesai". Kesalahan ini sayangnya menular ke sebagian besar
orang terdidik negeri ini.
Untuk mengatasi kesalahan pertama, menurut saya, seharusnya yang ditanamkan
kepada anak2 Indonesia di sekolah adalah belajar itu adalah
usaha memahami sesuatu dengan cara "scientific",
dengan cara logis berdasarkan apa yang sudah diketahui dan apa yang bisa
diimplikasikan (dikira-kira) dari apa yang sudah diketahui tersebut.
Kemudian hal lain yang perlu ditanamkan adalah belajar itu bukan untuk
mengejar nilai bagus, tetapi untuk memahami, menguasai, mengaplikasikan,
dan mengembangkan apa yang sudah dipelajari. Dunia sudah memberi terlalu
banyak bukti bahwa orang yang mampu mengembangkan pengetahuanlah yang
akhirnya menang. Mempunyai nilai akademik baik memang bagus, tetapi
itu bukanlah tujuan akhir dari belajar.
Untuk mengatasi kesalahan kedua, mahasiswa perlu "disadarkan" bahwa
saat lulus kuliah adalah saat untuk memulai belajar yang lebih spartan,
lebih keras daripada saat kuliah itu sendiri. Kuliah pada dasarnya hanya
memberikan bekal untuk belajar setelah kuliah selesai dan gelar didapatkan.
Mengapa ini dibutuhkan? Dunia berkembang sangat cepat saat ini, apalagi di
bidang teknologi. Apa yang dipelajari di perguruan tinggi bisa saj sudah tidak
relevan begitu lulus kuliah. Seperti kata Om Bob Sadino,
belajar jadi "goblok", alias belajar dengan rendah hati memahami bahwa
apa yang kita pelajari di kuliahan adalah masa lalu, bukan "present",
bukan hal2 yang aktual.
Satu hal lagi yang sangat membuat runyam SDM Indonesia adalah hilangnya
"rasa lapar untuk belajar" begitu kuliah sudah selesai. Bisa dikatakan
hampir 90% lulusan perguruan tinggi Indonesia berhenti mengembangkan diri
begitu mereka lulus. Lalu apa tujuan mereka kuliah? Hanya mendapatkan gelar?
Sayang sekali itu membuat kemampuan kompetitif SDM Indonesia sangat jelek
di level regional (ASEAN), apalagi di level yang lebih tinggi.
Dari sekian banyak bangsa di dunia, yang secara rata2 punya keinginan
sangat besar untuk belajar adalah Jerman, Jepang, Korea Selatan, China,
Israel, negara2 Nordic, Inggris, India dan beberapa negara eksportir barang2
hightech lainnya. Mungkin anda bertanya2 mengapa USA tidak masuk dalam
daftar tersebut? Berdasarkan sangat banyak hasil survey, orang2 USA saat
ini secara rata2 kurang kompetitif dan malas dibandingkan negara2 maju
lain. Namun demikian, USA memiliki jumlah orang2 yang sangat cerdas yang
cukup untuk mengimbangi kemalasan kolektif tersebut.
Mari kita lihat satu dari sekian banyak orang super cerdas tersebut
"belajar", pendiri Id Software John Carmack. Perusahaan inilah yang
membuat game Wolfenstein, Doom, Quake dan Rage. John Carmack adalah
seorang Drop Out dari Kansas University. Sebenarnya, dia sendiri tidak mau
kuliah, tetapi karena "paksaan" ibunya akhirnya dia mendaftar kuliah di
Kansas University dan memutuskan keluar setelah kuliah lebih dari satu tahun.
Yang sangat mengesankan dari John Carmack adalah sebelum membuat sebuah
game engine baru, dia pasti melakukan riset yang gila-gilaan karena
hampir semua game engine yang dia buat belum pernah dibuat orang lain
sebelumnya. Biasanya dia menghabiskan lebih dari $3000 untuk membeli buku
yang membantu risetnya. Riset tersebut bisanya memakan waktu kurang dari
satu tahun. Sekarang mari kita kalkulasi secara kasar, berapa banyak yang
dia pelajari dalam kurun waktu kurang dari satu tahun tersebut.
Anggap saja satu buku harganya $100 (harga buku teknis biasanya ada pada
kisaran tersebut atau lebih mahal). Berarti, John Carmack mempelajari
tidak kurang dari 30 buku sebagai basis riset. Buku-buku tersebut bukan
buku main2 gaya Indonesia yang tebalnya hanya 100-200 halaman, tetapi
buku dengan kisaran tebal > 600 halaman. Lebih lanjut, buku tersebut
bukan hanya dipelajari begitu saja, tetapi dipahami dengan sangat mendalam.
Mengapa? Tentu saja supaya bisa menghasilkan teknologi generasi selanjutnya.
Jika kita bandingkan dengan mahasiswa yang sedang kuliah di Indonesia,
30 "textbook" seperti itu mungkin sebanding dengan minimal 1,5 s/d 2 tahun
kuliah dengan intensitas yang sangat tinggi. Dari sini dapat kita lihat
bahwa kita "sangat malas".
Lebih jauh, menurut pengalaman pribadi saya, kecepatan orang dalam belajar,
tergantung seberapa lama orang tersebut telah "berlatih" belajar dan
seberapa lama dia telah berusaha fokus secara terus menerus. Sayangnya
sangat sedikit orang Indonesia yang demikian. Itulah sebabnya mengapa
kita sangat tidak kompetitif di level global.
Yang perlu diketahui adalah orang akan mempunyai "ketahanan" belajar
terus menerus jika dia mempelajari apa yang disukainya. Sayang sekali
mentalitas seperti itu sangat jarang diajarkan dan dipupuk
dalam keluarga-keluarga dan sekolah-sekolah Indonesia.
Saya bukan "memuja" orang Yahudi, tetapi kita harus mengakui bahwa
mereka unggul, sangat unggul untuk urusan yang satu ini, tidak perlu
mengambil contoh banyak, cukup melihat Google dan Facebook, pendiri
kedua raksasa teknologi tersebut adalah orang Yahudi
(Mark Zuckerberg dan Sergey Brin)
Seperti kata Sehat Sutardja (pendiri Marvell [perusahaan teknologi besar di USA],
orang Indonesia yang paling sukses di bidang IT sejauh ini).
Belajar sebanyak mungkin, sekeras yang kita bisa dan jangan mengandalkan
kuliah karena masa depan menuntut pengetahuan yang terintegrasi, bukan
hanya satu bidang tapi sekumpulan bidang yang saling berhubungan.
Steve Jobs (pendiri Apple) pernah berkata pada sebuah kuliah umum di
Stanford University: "Stay foolish, stay hungry"
Mudah-mudahan ada manfaatnya :-)
| < Prev | Next > |
|---|
"Rasa Lapar Untuk Belajar"



