You are here: Pendidikan

Ikatan Mahasiswa Akuntansi

Akuntansi Syariah Sebagai Solusi ?

Print PDF

Oleh: Adhyatma Hasbi

Di era yang modern ini, globalisasi semakin menampakkan tajinya. Salah satu contohnya adalah pengaruh pendidikan orang Barat yang telah memasuki system pendidikan kita saat ini. Misalnya saja di jurusan Akuntansi UNHAS disuguhkan buku akuntansi yang berasal dari pemikiran orang barat, mulai dari Pengantar Akuntasi hingga Akuntansi Keuangan buku pedoman pengajarannya ditebitkan dari orang barat yaitu Kieso dkk. Jadi jangan heran ketika pemikiran lulusannya terkonstruk pada pemikiran orang barat.

Hal lain dapat di lihat dalam proses harmonisasi standar pelaporan keuangan. Pada umumnya landasan teori yang dipergunakan untuk membuat standar pelaporan keuangan bersumber dari IASC (International Accounting Standards Committee). Standar Akuntansi Keuangan yang diterbitkan Oleh IAI jelas-jelas menyadur Framework for the Preparation and Presentation of Financial Statements IASC. Alasan Indonesia untuk mengadopsi standar keuangan tersebut merupakan konsekuensi Indonesia telah menandatangani perjanjian dengan IMF (International Monetary Fund) pada tahun 1997 dan salah satu isi perjanjiannya adalah indonesia harus mengadopsi kebijakan keuangan IASB.

Alasan harmonisasi inilah yang mengantarkan kita ke babak baru yaitu neoliberalisme. Dengan penyeragaman standar ini, akan mempermudah bagi negara-negara adidaya untuk memanfaatkan negara-negara berkembangan seperti negara kita tercinta ini. Dengan kedok untuk menerapkan prinsip Good Coorporate Governance (GCG) yaitu jelasnya akuntabilitas dan transparansi namun ada tujuan spesifik dari negara tersebut yaitu, untuk mempermudah aliran modal mereka. Perusahaan besar mereka akan senaknya saja menguasai sumber alam kita yang lambat laun akan mematikan perusahaan-perusahaan asli dalam negeri kita. Currency (Nilai Tukar), Security Trading (Penghambat perdagangan), Market Liberalization (Pasar Bebas) merupakan beberapa tujuan yang diarahakan oleh negara adidaya tersebut dalam harmonisasi ini untuk menguasai negara-negara berkembang.

Tidak hanya itu, dalam penerapan landasan teori yang dikemukakan oleh IASC tersebut terdapat konsep Entity Theory di dalamnya. Di mana konsep ini memusatkan seluruhnya pada stockholder yang lain hanya merupakan modal belaka jadi jangan heran konsep ini sejalan dengan Agency Theory. Di mana konsep ini meniscayakan adanya “majikan” dan “buruh”. Di mana secara sederhana,  majikan lah yang mendikte buruh untuk mengumpulkan keuntungan sebanyak-banyaknya dan buruh tidak memiliki inisiatif untuk berfikir dalam mengambil tindakan karena ada rasa takut akan tidak memuaskan majikannya. Dengan berlakunya dua konsep di atas maka dapat dipastikan pembuatan laporan keuangan yang semula bebas kepentingan kini menjadi sarat kepentingan.

Hasil dari penerapan akunatansi yang sarat akan neoliberalisme dapat di lihat dari krisis tahun 2007-2008 merupakan siklik dan akumulasi keruntuhan ekonomi kapitalisme. Siklik dan kecenderungan akumulasi ini terlihat sejak tahun 1923, kemudian berulang pada tahun 1930, 1940, 1970, 1980, 1990, dan 1998-2001. Krisis keuangan tahun 2000-2001 di Amerika Serikat puncaknya ketika terjadi skandal korporasi terburuk 70 tahun terakhir seperti Enron, Arthur Anderson, WorldCom, Cisco Systems, Lucent Tech dan lainnya (lihat misalnya Stiglitz 2006, 7-8; Ravenscroft dan William 2004; Mayper et.al. 2005; Bean dan Bernardi 2005). Kita lihat kejatuhan perusahaan investasi sekuritas keempat terbesar di Amerika, Lehman Brothers. Kebangkrutan Lehman Brother disebabkan ketidakmampuan melunasi kewajiban miliaran dollar AS. Kehancuran pasar saham lewat derivatif juga terungkap lagi dengan kasus penipuan senilai 50 miliar dollar AS di Wall Street oleh Bernard Madoff di akhir tahun 2008. Masalah besarnya dari sisi akuntansi adalah perusahaan Madoff ditangani oleh kantor akuntan kecil, Friehling & Horowitz. Indonesiapun tidak ketinggalan, misalnya Sarijaya Sekuritas yang melakukan penggelapan dana dan salah urus aktivitas sekuritas senilai 245 miliar rupiah. Belum lagi kasus Group Bakri atau yang sekarang sedang marak per Januari 2009, 12 perusahaan sekuritas lainnya diberi sanksi denda dan dalam pengawasan Bappepam karena melakukan short selling. Aktivitas mereka ditengarai yang telah menyebabkan gejolak IHSG BEI.

Di sisi lain, konsep keuangan islam telah berkembang pesat. Industri jasa keuangan Islam, sekarang telah mempunyai asset lebih dari $175 milyar dengan ekuitas sebesar $15milyar. Terdapat lebih dari 300 Bank Islam, perusahaan keuangan, bank investasi, reksa dana dan perusahaan asuransi Islam. Pertumbuhan disektor ini sangat signifikan 10 tahun belakang ini. Industri ini telah tumbuh sebesar 23% per tahun. Industri ini telah mempekerjakan sekitar 300.000 pekerja yang tersebar di 34 negara diseluruh benua kecuali di Amerika Selatan. Industri ini akan diproyeksikan akan bertumbuh sebesar sekian $trilyun sampai tahun 2010 (Sumber AAOIFI). Kuala Lumpur dan Bahrain merupakan negara terdepan di dunia pasar modal Islam, sementara Dubai dan negara pemain lainnya di Timur Tengah sedang menuju ke arah tersebut. Di Inggris, bank Islam pertama telah dibuka dan di Singapore menyatakan ketertarikan untuk menjadi pusat keuangan islam, sementara Cina dan India telah menyatakan ketertarikannya dalam bank Islam. Bank syariah dan perusahaan pembiayaan tidak hanya pelaku pasar dalam artian kehadiran mereka di pasar modal. Lebih penting lagi, mereka adalah bagian dari sistem intermediasi keuangan dan sangat penting bagi perekonomian suatu negara.

Menurut Prof. Iwan Triyuwono dalam kata pengantar Menyibak Akuntansi Syariah karya Adji Dedi Mulawarman, di Indonesia sendiri konsep akuntansi syariah telah berkembang sejak tahun 1990an, dan mengalir manjadi dua bentuk, yaitu akuntansi syariah paraktis dan akuntansi syariah filosofis-teoretis. Bentuk akuntansi syariah praktis dipengaruhi oleh akuntansi modern karena berorientasi pada praktis, jadi terkesan melakukan modifikasi sederhana terhadap akuntansi modern (akuntansi konvensional). Sedangkan yang kedua, yaitu akuntansi syariah filosois-teoretis, menekankan pada bentuk ideal dengan cara menggali dan menggunakan nilai-nilai filosofis Islam untuk kemudian digunakan sebagai landasan dalam membangun teori akuntansi syariah.

Masing-masing bentuk memiliki kelemahan dan kelebihannya masing-masing. Akuntansi syariah praktis memiliki ketersediaan standar yang instan untuk memenuhi kebutuhan dunia bisnis namuan tidak memperhatikan nilai filosofis islam yang semestinya menjadi fondasi utama bagi bentuk akuntansi syariah. Sebaliknya akuntansi syariah filosofis-teoretis melihat secara kritis terhadap akuntansi modern, termasuk nilai-nilai yang ada di dalamnya, bahwa akuntansi modern memiliki sifat yang egoistis, materialis, dan mekanis. Kelemahan dari akuntansi syariah filosofis-teoretis adalah bahwa ia masih jauh dari dunia paraktik .

Prof Iwan Triyuwono menambahkan bahwa untuk mengatasi kesenjangan ini maka diperlukan proses derivasi/penurunan konsep dasar teori akuntansi syariah. Beliau mengkonsepkan bahwa hal yang utama untuk mewujudkan akuntansi syariah adalah Tauhid. Dari tauhid ini lah akan menciptakan Faith, Knowledge, Action turun ke prinsip filosofis akuntansi syariah yang humanis, emansipatoris, transcendental, dan teologikal turun ke konsep dasar akuntasi syariah yang merupakan instrument keuangan, bagian dari socio-economi, critical, menanamkan nilai-nilai keadilan, Ethical, Holistic welfare, all-inclusive, rational intuitive. Dari penurunan inilah praktek akuntansi syariah yang sesungguhnya dapat dijalankan.

Terdapat konsep menarik yang ditawarkan Adji Dedi Mulawarman dalam bukunya Menyibak Akuntansi Syariah. Perumusan Shari’ate Value Added System (Laporan Nilai Tambah Syariah), yaitu laporan kinerja keuangan pengganti Income Statement (Laporan Laba Rugi), dengan cara melakukan rekonstruksi terhadap Value Added Statement (Laporan Nilai Tambah). Laporan Nilai Tambah Syariah adalah bentuk pertanggungjawaban keuangan perusahaan Islami yang idealnya untuk memberikan nilai tamabah (Value Added) dan tazkiyah (pensucian). Pemberian nilai tambah yaitu peningkatan kesejahteraan bagi pemilik, manajemen, dan pemegang saham di satu sisi. Sekaligus nilai tambah kesejahteraan yang harus dilakukan pula kepada karyawan, buruh, supplier, masyarakat sekitar, pemerintah, lingkungan. Dan teutama adalah tugas perwujudan nilai Tazkiyah (penyucian) laporan keuangan sebagai bentuk pertanggungjawaban perusahaan kepada Allah SWT. Di dalam bukunya Beliau menekankan bahwa zakat merupakan sebagai pusat value added sebagai perwujudan akuntabilitas dan tazkiyah (penyucian) perusahaan.

Dalam konsep laporan Sahri’ate Value Added Statement (SVAS) yang ditawarkan Adji Dedi Mulawarman dalam bukunya Menyibak Akuntansi syariah terdapat perbedaan cara pandang dari akuntansi konvensional dan Islam. misalnya dalam gaji karaywan, Akuntansi konvensional melihat gaji karyawan sebagai turunan dari faktor-faktor produktif dalam ekonomi, sehingga harus diletakkan kedudukannya sama dengan modal, tanah, dan investasi lainnya. Sedangkan dalam islam, gaji karyawan berbeda kedudukannya, yaitu sebagai ketundukan kepada Alllah SWT untuk memberikan nilai kompensasi dari hasil keringat kerjasama antar sesama manusia ciptaan Allah SWT. Sehingga gaji karyawan diletakkan dalam bentuk aktualisasi akuntabilitas ketundukan. Sedangkan modal, tanah dan investasi diletakkan dalam bentuk aktualisasi akuntabilitas kreativitas.

Selain itu, terdapat konsep laporan kualitatif dalam Shari’ate Value Added Statement. Laporan informasi yang bersifat kulitatif ini menjadi penting karena hal itu akan mengarahkan penggunanya tidak berfikir tentang materi saja. Laporan kualitatif berupa catatan berkaitan dengan tiga hal. Pertama, pencatatan laporan pembentukan SVA yang tidak dapat dimasukkan dalam bentuk laporan kuantitatif. Misalnya, bila terjadi kesalahan dalam perusahaan berkaitan dengan ketentuan-ketentuan syara’. Berupa penentuan perusahaan dalam melakukan proses produksi suatu produk tertentu terkait dengan halal-haram, etika usaha dan manajemen keseluruhan, prosedur dan mekanisme perencanaan, implementasi dan evaluasinya pada suatu rangkaian produksi/olahan bahan yang akan dikonsumsi umat islam. Kedua, pencatatan atas penentuan nisab zakat yang merupakan batas dari SVA yang wajib dikenakan zakat dan distribusi zakat pada yang berhak. Ketiga, laporan kualitatif seperti penjelasan tentang keharaman, baik karena faktor eksternal dari penjualan, proses pembentukan struktur modal yang berhubungan dengan neraca, maupun proses relasi sosial dan penanganan lingkungan. Seperti diketahui, tazkiyah (penyucian) selain dilakukan dalam aktivutas ekonomi juga berkaitan dengan pelaku yang berinteraksi dengan perusahaan.

Mampukah konsep akuntansi syariah di atas diterapkan dan menjadi solusi permasalahan akuntansi modern? Konsep Akuntansi syariah yang bagaimanakah yang harus diterapkan sehingga dapat menjadi solusi ditengah gencaran kapitalis dalam menerapkan akuntansi modern?

 

RUU Perguruan Tinggi

Print PDF

Pendidikan merupakan faktor utama pembangunan bangsa tapi dengan melihat kenyataan yang terjadi, bisa dikatakan kondisi pendidikan Indonesia saat ini berada diambang kehancuran . Dewasa ini pemerintah malah ingin memperparah kondisi tersebut dengan mensahkan RUU PT yang tidak lain adalah ruh dari UU BHP yang sebelumnya telah ditolak oleh mahkamah agung, RUU PT juga tidak memiliki landasan hokum yang jelas, baik dari pasal 31 UUD 1945 maupun UU 20/2003 tentang system pendidikan nasional. Pemerintah seharusnya membuat peraturan pemerintahan turunan dari UU yang baru. Jika ada UU baru. Jika ada UU baru, dikhawatirkan UU SIsdiknas akan hilang

Kita bisa bayangkan, Jika RUU PT jadi disahkan maka pemerintah hanya akan menanggung 1/3 pembiayaan pendidikan (pasal 86 ayat 2). Sisanya diserahkan kekampus dan pelaku pendidikan (mahasiswa/orangtua mahasiswa). Kebijakan ini diskriminatif, sebab upaya Negara mencerdaskan kehidupan (masyarakat) bangsa saja belum berhasil. Maka, proses perbaikan pendidikan akan semakin gagal.

Sekarang dimanakah mahasiswa? Diamkah membiarkan negeri kaya raya ini dijajah? Jika anda diam, Percayalah anda menanggung dosa besar gagal menyelamatkan asset bangsa bernama kampus dan manusia.

Namun, pada hari kamis (19/01/12) kemarin masih ada yang kembali menyuarakan perlawanan terhadap RUU PT dan menjadi bentuk follow up dari seleseinya mengikuti proses Bina Kadar Mahasiswa Akuntansi (Latihan Kepemimpinan 1). Semangat muda mereka menjadi suatu bukti suatu sindiran halus kepada mereka yang banya bersifat apatis dari RUU PT ini.

 

"Mahasiswa Sebagai Sosok yang Idealis dan Pragmatis"

Print PDF

Oleh: Andi Sri Wahyuni
`“Mahasiswa telah mati, telah berganti menjadi pengecut” merupakan lirik sebuah lagu yang sering diperdengarkan dalam ritual prosesi pengkaderan atau sering disebut sebagai “ospek”. Sebagian dari mahasiswa yang mendengar lagu ini, mungkin akan sedikit bertanduk. Tapi coba kembali kita meraba makna yang ingin disampaikan pencipta lagu ini. Mahasiswa yang dulu melaksanakan tugasnya sebagai agent of change memang perlahan-lahan melupakan fungsi-fungsinya sebagai mahasiswa, ini ditandai dengan melunturnya karakter mahasiswa kita menjadi hedonis, konsumtif dan pragmatis. Tentu tidak semua, masih ada ternyata mahasiswa yang kemudian mempertahankan idealismenya dan meninggalkan kehidupan yang berjalan di atas jejak pragmatisme.

Sebelum lebih lanjut membahas tentang mahasiswa idealis dan pragmatis, lebih bijak kiranya untuk memahami terlebih dahulu defenisi dari pragmatis dan idealis itu sendiri guna menyamakan pemahaman.

Idealisme merupakan kompilasi dari dua kata. Kata Ideal dan kata isme. Ideal artinya suatu keadaan yang sempurna dan isme merupakan sebuah paham atau prinsip hidup. Idealisme, yaitu suatu pegangan hidup yang kokoh dijaga agar tidak terpengaruh dan selalu berusaha diwujudkan untuk mendapatkan kepuasan diri sendiri ataupun kelompok, dapat juga diartikan sebagai suatu pemikiran bahwa seharusnya hidup terkondisi pada keadaan yang sebagaimana dibayangkan, agar semua yang dilakukan terasa benar dan sempurna bagi dirinya atau bagi kelompoknya. Idealisme seringkali dipersaudarakan dengan kritis berlebih, anarkisme, radikalisme, ekstrimisme dan artian-artian sebangsanya. Tidak heran idealisme menjadi sering disalahartikan dalam banyak ranahnya. Segala hal yang berontak kemudian digelari sikap fundamental pertahanan idealisme. Kekerasan-kekerasan dan spesies-spesiesnya juga demi berbagai macam pembelaan ikut numpang selamat pada kata Idealisme. Padahal jika kata idealisme ini kita tarik maka akan terlihatlah dengan jelas lekak-lekuk akar dan pembuluhnya. Dan tak satu pun disana tersemat buku-buku kekerasan karena mustahil sekali sesuatu yang diupayakan bisa sempurna, apabila gaya tatanya berkiblat pada gaya anarkis. Seperti menyamakan gaya perbaikan dengan gaya pengerusakan. Kritis dan idealis, yang merupakan potensi penting bagi mahasiswa, dianggap hina dan berujung pada diskriminasi sosial.

Pendidikan yang dilahirkan pada awalnya sebagai media pembebasan manusia dari segala bentuk pembodohan menjadi sebuah ironi bagi perdebatan idealisme dan pragamatisme. Kaum pragmatis dalam perjalanan sejarahnya akan selalu bertentangan dengan para idealis yang mungkin tidak sesejahtera kaum pragmatis. Para idealis menginginkan sebuah perubahan karena berpemikiran jernih, tulus, dan berpangkal pada posisi, potensi dan peran mereka sebagai mahasiswa. Mereka berkeinginan untuk memajukan kelompok atau institusi sebagai salah satu upaya untuk menuju masa depan yang lebih baik agar dapat dinikmati oleh semua pihak dan generasi yang akan datang.

Menurut, Muhammad Ilham (mahasiswa S2 Manajemen UH) mahasiswa idealis adalah mahasiswa yang memiliki kesadaran kolektif dan punya kepedulian untuk orang lain. Dapat dibahasakan bahwa, mahasiswa idealis adalah mereka yang senantiasa berjuang mendakwahkan ajaran nabi-nabi. Sedangkan mahasiswa pragmatis adalah mereka yang lebih mementingkan dirinya sendiri, itu karena mereka belum punya kesadaran dan pengetahuan tentang pentingnya berkhidmat.

Setelah mengetahui makna dari idealis dan pragmatis, lebih terkhusus dalam diri seorang mahasiswa, mari kita melihat realitas yang terjadi saat ini!

Dalam dunia kampus, tidak dapat dipungkiri bahwa tugas mahasiswa memang adalah belajar. Hanya saja, pernyataan tersebut kemudian terdistorsi dengan pahaman bahwa belajar identik dengan mahasiswa yang memperoleh IPK 4,0 dan lulus dengan kurun waktu empat tahun. Belajar kemudian diberikan sekat dan prioritas. Mahasiswa calon akuntan misalnya, menganggap bahwa mata kuliah akuntansi adalah lebih penting daripada belajar tentang kepemimpinan. Menanggapi hal ini, Annies Baswedan pernah berkomentar bahwa IPK tinggi hanya akan mengantar seorang sarjana sampai pada panggilan wawancara, sedangkan yang menentukan selanjutnya adalah jiwa-jiwa leadership-nya. Pamaknaan kata “belajar” yang seolah-olah menganaktirikan ilmu-ilmu yang lain kemudian menjadi salah satu penyebab pudarnya idealisme mahasiswa. Bahkan, yang lebih ironis ketika ukuran keberhasilan semata diukur dari kemapanan seseorang mencukupi kebutuhan perutnya, dari tingginya pangkat, dari terpandangnya status sosial. Bukan lagi soal siapa yang lebih bisa berguna bagi orang lain. Bukankah yang paling baik di antara manusia di sisi Tuhannya adalah yang memberikan manfaat bagi orang lain?

Dalam realitasnya, kebanyakan dari mahasiswa lebih memilih untuk menjadi mahasiswa yang acuh atak acuh dengan lingkungannnya. Mahasiswa lebih senang mejeng di mall ketimbang turun tangan dalam gerakan-gerakan sosial. Namun, adalah juga hal yang keliru ketika mahasiswa-mahasiwa yang bergerumul dengan dunia kampus atau lebih kita kenal dengan istilah “aktivis kampus” diidentikkan dengan mahasiswa yang selalu berpikiran idealis. Faktanya, ada-ada saja ditemukan aktivis yang bergelut dengan organisasi dan lembaganya bukan untuk memenuhi tanggung jawab sosialnya, tapi untuk memenuhi kebutuhan pribadinya yang sama sekali tidak memberi keuntungan dan manfaat bagi orang lain.

Lalu timbul pertanyaan, apakah mahasiswa yang memiliki pandangan pragmatis patut untuk disalahkan sepenuhnya? Jawabannya tentu tidak. Apa yang dilakukan oleh mahasiswa glamour dan hedonis sebenarnya merupakan tindakan yang benar menurut kaca mata mereka. Jadi, yang menjadi titik utama adalah persoalan cara memandang. Maka salah satu solusinya adalah, mahasiswa yang telah sampai pada tataran idealis, bertanggung jawab secara moril untuk menyampaikan nilai-nilai kebaikan pada mereka yang masih pada tataran pragmatis. Langkah kongkrit tentu menjadi sasaran solusi atas permasalahan ini. Misalnya saja, mahasiswa  A berteman akrab dengan mahasiswa B, maka tanggung jawab sosial mahasiswa A yang lebih paham pada nilai-nilai kebaikan untuk mentransferkan pengetahuannya kepada si B dalam keseharian mereka di kampus. Jika perlu, pada ranah formal dibuatkan semacam kajian khusus yang secara intensif mengkaji tentang nilai-nilai kebaikan dalam hidup. Solusi lain yang mungkin dapat diterapkan adalah, mendorong mereka untuk lebih banyak membaca buku. Tidak dapat dipungkiri, buku adalah jendela dunia. Mereka yang mungkin tidak bisa menerima secara lapang dan terbuka ketika diceramahi dan diajak berdiskusi dapat dipahamkan dengan meminjamkan atau menyarankan referensi bacaan-bacaan yang memuat tentang nilai-nilai kebenaran dan kebaikan.

Kecendrungan mahasiswa untuk menjadi mahasiswa pragmatis sebenarnya didorong oleh faktor implisit. Mahalnya biaya kuliah misalnya. Kecendrungan untuk sarjana dengan cepat karena terdesak permintaan orang tua, apalagi bagi mereka yang kurang mampu atau sebut saja mereka yang harus bersusah-susah membayar SPP per semesternya. Tentu keinginan untuk menjadi “sang pahlawan” di tengah-tengah masyarakat kita yang dirundung berbagai masalah menjadi pilihan sulit bagi mereka. Mengingat mahasiswa seperti ini didesak untuk segera lulus dan dapat kerja.

Ya, karenanya pemerintah pun cukup berperan penting dalam penentuan pembentukan karakter mahasiswa idealis dan pragmatis. Biaya pendidikan lagi-lagi menjadi sorotan. Dimana-mana ketika berbicara tentang masalah dunia pendidikan, akan kembali lagi ke pemerintah yang harus menetapi janji kemerdekaan dengan mencerdaskan kehidupan bangsa. Pemerintah harus mengupayakan anggaran pendidikan yang lebih adil dan merata untuk mereka anak-anak bangsa yang butuh mengeyam pendidikan, termasuk pelajar pendidikan tinggi.

 

"Rasa Lapar Untuk Belajar"

Print PDF

Secara rata-rata, orang Indonesia kemungkinan masuk dalam kategori malas
atau sangat malas belajar. Memang tidak semua orang Indonesia demikian,
tetapi jika kita bandingkan jumlah yang "rajin" dan yang "sangat malas"
kemudian diambil rata-ratanya kemungkinan besar itulah hasil yang kita
dapatkan.

Semua orang tau bahwa untuk maju, hal pertama yang harus kita lakukan
adalah belajar. Kesalahan pertama dari sistem pendidikan kita adalah
membuat image bahwa "belajar" itu hanya di sekolah atau di tempat kuliah saja.
Kesalahan kedua adalah membuat image bahwa setelah kuliah selesai/tamat,
"belajar sudah selesai". Kesalahan ini sayangnya menular ke sebagian besar
orang terdidik negeri ini.

Untuk mengatasi kesalahan pertama, menurut saya, seharusnya yang ditanamkan
kepada anak2 Indonesia di sekolah adalah belajar itu adalah
usaha memahami sesuatu dengan cara "scientific",
dengan cara logis berdasarkan apa yang sudah diketahui dan apa yang bisa
diimplikasikan (dikira-kira) dari apa yang sudah diketahui tersebut.
Kemudian hal lain yang perlu ditanamkan adalah belajar itu bukan untuk
mengejar nilai bagus, tetapi untuk memahami, menguasai, mengaplikasikan,
dan mengembangkan apa yang sudah dipelajari. Dunia sudah memberi terlalu
banyak bukti bahwa orang yang mampu mengembangkan pengetahuanlah yang
akhirnya menang. Mempunyai nilai akademik baik memang bagus, tetapi
itu bukanlah tujuan akhir dari belajar.

Untuk mengatasi kesalahan kedua, mahasiswa perlu "disadarkan" bahwa
saat lulus kuliah adalah saat untuk memulai belajar yang lebih spartan,
lebih keras daripada saat kuliah itu sendiri. Kuliah pada dasarnya hanya
memberikan bekal untuk belajar setelah kuliah selesai dan gelar didapatkan.
Mengapa ini dibutuhkan? Dunia berkembang sangat cepat saat ini, apalagi di
bidang teknologi. Apa yang dipelajari di perguruan tinggi bisa saj sudah tidak
relevan begitu lulus kuliah. Seperti kata Om Bob Sadino,
belajar jadi "goblok", alias belajar dengan rendah hati memahami bahwa
apa yang kita pelajari di kuliahan adalah masa lalu, bukan "present",
bukan hal2 yang aktual.

Satu hal lagi yang sangat membuat runyam SDM Indonesia adalah hilangnya
"rasa lapar untuk belajar" begitu kuliah sudah selesai. Bisa dikatakan
hampir 90% lulusan perguruan tinggi Indonesia berhenti mengembangkan diri
begitu mereka lulus. Lalu apa tujuan mereka kuliah? Hanya mendapatkan gelar?
Sayang sekali itu membuat kemampuan kompetitif SDM Indonesia sangat jelek
di level regional (ASEAN), apalagi di level yang lebih tinggi.

Dari sekian banyak bangsa di dunia, yang secara rata2 punya keinginan
sangat besar untuk belajar adalah Jerman, Jepang, Korea Selatan, China,
Israel, negara2 Nordic, Inggris, India dan beberapa negara eksportir barang2
hightech lainnya. Mungkin anda bertanya2 mengapa USA tidak masuk dalam
daftar tersebut? Berdasarkan sangat banyak hasil survey, orang2 USA saat
ini secara rata2 kurang kompetitif dan malas dibandingkan negara2 maju
lain. Namun demikian, USA memiliki jumlah orang2 yang sangat cerdas yang
cukup untuk mengimbangi kemalasan kolektif tersebut.

Mari kita lihat satu dari sekian banyak orang super cerdas tersebut
"belajar", pendiri Id Software John Carmack. Perusahaan inilah yang
membuat game Wolfenstein, Doom, Quake dan Rage. John Carmack adalah
seorang Drop Out dari Kansas University. Sebenarnya, dia sendiri tidak mau
kuliah, tetapi karena "paksaan" ibunya akhirnya dia mendaftar kuliah di
Kansas University dan memutuskan keluar setelah kuliah lebih dari satu tahun.
Yang sangat mengesankan dari John Carmack adalah sebelum membuat sebuah
game engine baru, dia pasti melakukan riset yang gila-gilaan karena
hampir semua game engine yang dia buat belum pernah dibuat orang lain
sebelumnya. Biasanya dia menghabiskan lebih dari $3000 untuk membeli buku
yang membantu risetnya. Riset tersebut bisanya memakan waktu kurang dari
satu tahun. Sekarang mari kita kalkulasi secara kasar, berapa banyak yang
dia pelajari dalam kurun waktu kurang dari satu tahun tersebut.
Anggap saja satu buku harganya $100 (harga buku teknis biasanya ada pada
kisaran tersebut atau lebih mahal). Berarti, John Carmack mempelajari
tidak kurang dari 30 buku sebagai basis riset. Buku-buku tersebut bukan
buku main2 gaya Indonesia yang tebalnya hanya 100-200 halaman, tetapi
buku dengan kisaran tebal > 600 halaman. Lebih lanjut, buku tersebut
bukan hanya dipelajari begitu saja, tetapi dipahami dengan sangat mendalam.
Mengapa? Tentu saja supaya bisa menghasilkan teknologi generasi selanjutnya.
Jika kita bandingkan dengan mahasiswa yang sedang kuliah di Indonesia,
30 "textbook" seperti itu mungkin sebanding dengan minimal 1,5 s/d 2 tahun
kuliah dengan intensitas yang sangat tinggi. Dari sini dapat kita lihat
bahwa kita "sangat malas".

Lebih jauh, menurut pengalaman pribadi saya, kecepatan orang dalam belajar,
tergantung seberapa lama orang tersebut telah "berlatih" belajar dan
seberapa lama dia telah berusaha fokus secara terus menerus. Sayangnya
sangat sedikit orang Indonesia yang demikian. Itulah sebabnya mengapa
kita sangat tidak kompetitif di level global.

Yang perlu diketahui adalah orang akan mempunyai "ketahanan" belajar
terus menerus jika dia mempelajari apa yang disukainya. Sayang sekali
mentalitas seperti itu sangat jarang diajarkan dan dipupuk
dalam keluarga-keluarga dan sekolah-sekolah Indonesia.
Saya bukan "memuja" orang Yahudi, tetapi kita harus mengakui bahwa
mereka unggul, sangat unggul untuk urusan yang satu ini, tidak perlu
mengambil contoh banyak, cukup melihat Google dan Facebook, pendiri
kedua raksasa teknologi tersebut adalah orang Yahudi
(Mark Zuckerberg dan Sergey Brin)

Seperti kata Sehat Sutardja (pendiri Marvell [perusahaan teknologi besar di USA],
orang Indonesia yang paling sukses di bidang IT sejauh ini).
Belajar sebanyak mungkin, sekeras yang kita bisa dan jangan mengandalkan
kuliah karena masa depan menuntut pengetahuan yang terintegrasi, bukan
hanya satu bidang tapi sekumpulan bidang yang saling berhubungan.

Steve Jobs (pendiri Apple) pernah berkata pada sebuah kuliah umum di
Stanford University: "Stay foolish, stay hungry"

Mudah-mudahan ada manfaatnya :-)

 
  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  Next 
  •  End 
  • »
Page 1 of 3

Akuntansi | Manajemen | Serba Serbi | Ilmu Ekonomi | Almamater | Hukum | Lingkungan | Pendidikan | SOSBUD | Puisi | Resensi | Daftar Dosen | Data Akademik | Beasiswa | Loker | Undangan