
Seminggu yang lalu, tepatnya tanggal 19 Oktober 2009, KEMA FE-UH jurusan Akuntansi mengadakan studi komparatif ke PT. Maruki International Indonesia. Karena satu dan lain hal, kami yang berjumlah 18 orang, tiba di Maruki pukul 09.15. Lima belas menit lebih lambat dari jadwal yang telah disepakati dengan PT Maruki International Indonesia. Kesan pertama yang kami dapatkan ketika sampai di sana adalah suasana perusahaan yang asri dan tenang. PT Maruki International Indonesia adalah sebuah perusahaan modal asing yang terletak di jalan Kapasa Raya Kawasan KIMA Makassar. Perusahaan ini memproduksi Butsudan.
Butsudan merupakan lemari kayu dengan pintu-pintu yang menyertakan dan melindungi ikon religius, biasanya sebuah patung. Pintu-pintu dibuka untuk menampilkan ikon selama peringatan keagamaan. Butsudan biasanya ditemukan di kuil-kuil dan rumah di Jepang. Butsudan adalah kata dalam bahasa Jepang yang berarti Buddha (Butsu) Platform (dan). PT Maruki Internasional Indonesia yg dimiliki oleh H.M. Taufik Fachruddin merupakan pengekspor batsudan dengan orderan 7-10 kontainer atau setara dengan 500-600 unit batsudan.
Perusahaan yang telah berdiri selama 12 tahun ini memproduksi butsudan dengan bahan baku kayu hitam (eboni) asli dari Sulawesi Tengah. Produk ini dibutuhkan masyarakat Jepang untuk menjalankan tradisi, jika statusnya makin tinggi. Harga butsudan mencapai Rp 100-500 juta per Unit. Tiap 5 tahun biasanya orang Jepang membeli 2-3 butsudan untuk merayakan kenaikan pangkat, kelahiran anak atau keberhasilan lainnya.
Saat ini produk butsudan Maruki mencapai ribuan tipe. Kompetitor terbesar adalah Cina, Taiwan, dan Korea yg menawarkan harga lebih murah. Tetapi, kualitas kayu mereka kalah dibandingkan eboni produksi Maruki. Apalagi Maruki telah mengantongi ISO:9002 dan ISO:14001
Kunjungan kami ke PT Maruki International Indonesia didasari oleh rasa keingintahuan yang besar tentang audit manajemen yang diterapkan oleh Maruki, lebih terkhusus lagi terhadap ISO (International Organization for Standardization) yang telah didapatkan oleh Maruki. Di tahun 2002, Maruki berhasil mendapatkan ISO:9002 dan ISO:14001. Namun hal itu tidak berlangsung lama, karena di saat kami mengadakan kunjungan ini ternyata Maruki sudah melepaskan diri dari ISO. Alasan perusahaan yang interiornya didominasi nuansa Jepang ini melepaskan diri adalah biaya. Menurut Maruki, ketika menerapkan ISO, Maruki mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Selain itu, partner Maruki, dalam hal ini negara Jepang, tidak pernah menyaratkan kepada PT Maruki International Indonesia untuk harus memiliki ISO.
Kunjungan kami ke PT Maruki International Indonesia diawali dengan disambutnya kami oleh Manajer Humas dan Manajer HRD perusahaan ini. Setelah sesi penyambutan, kami langsung diajak berkeliling pabrik untuk melihat secara langsung proses pembuatan butsudan dari perusahaan ini. Selama berkeliling pabrik, kami diharuskan menggunakan masker yang sebelumnya dibagikan oleh karyawan yang mengantar kami berkeliling. Selama berkeliling pabrik, terlihat karyawan-karyawan yang bekerja di pabrik diharuskan untuk mengenakan masker, masker moncong babi, dan di beberapa tempat diharuskan mengenakan sumbat telinga. Namun, masih ada beberapa karyawan yang berseliweran dengan tidak memakai masker ketika kami berkeliling. Seluruh tahapan pembuatan butsudan diperlihatkan kepada kami. Mulai dari awal, yang hanya berupa kayu, hingga menjadi sebuah butsudan. Terlihat jelas bahwa Maruki adalah perusahaan yang sangat mementingkan kualitas. Hasil produksi harus benar-benar bermutu dan tanpa cacat. Goresan kuku pun akan diperiksa pada setiap barang, dan jika ada satu goresan, maka barang tersebut dianggap cacat.
Perusahaan yang di tahun 2008 meraih predikat PMA Terbaik ini memiliki beberapa program sebagai realisasi dari Corporate Social Responsibility (CSR). Perusahaan ini membangun beberapa balai-balai kecil semacam gardu pos ronda di sepanjang jalan yang dilalui ketika kami menuju PT. Maruki International Indonesia. Selain itu, perusahaan ini memberikan bibit-bibit pohon secara gratis, membangun perpustakaan untuk warga sekitar, dan memberikan beasiswa.
Meskipun pengendalian internal yang diterapkan oleh PT Maruki International Indonesia sangat baik, namun perusahaan ini tidak memiliki seorang Internal Auditor. Perusahaan ini diaudit secara teratur dan berkala oleh auditor dari Jepang. Selain itu, Direktorat Jenderal Pajak dan Bea Cukai juga turut mengaudit perusahaan ini.
Banyak pengalaman baru yang kami dapatkan ketika kami mengunjungi PT. Maruki International Indonesia. Selain mengedepankan kualitas, perusahaan ini juga sangat disiplin. Terbukti keterlambatan kami selama 15 menit lebih lambat dari jadwal yang ditetapkan menjadi satu topik yang selalu disinggung ketika sesi audiensi dengan perusahaan ini berjalan.
Divisi Keilmuan IMA FE-UH
| < Prev |
|---|
Studi Kompratif



